oleh: Asri Juli
“Pak Dedi, Pak Dedi kami anak-anak thalasemia, walaupun kami harus rutin transfusi darah, kami tetap semangat belajar”, seru Zahra dan anak-anak thalasemia lainnya saat membuat konten lapor Pak Dedi.

Pagi itu suasana Kota Bandung ramai seperti biasanya dan cerah tak seperti biasanya. Ya, sudah beberapa hari Bandung dirundung mendung dan hujan setelah siang. Tapi hari itu berbeda, hari Senin tanggal 19 Mei 2025 adalah agenda Eksplorasi Edukatif bagi para siswa thalasemia Homeschooling Semesta Edukasi ke Taman Lalu Lintas Bandung.
Para anak thalasemia berangkat pagi sekali dari Majalaya dan Ciparay dibantu oleh para Relawan Donor Darah Thalasemia (Redti). Satu per satu mereka dijemput ke rumah masing-masing. Anak-anak dan para pendamping amat antusias dengan pengalaman baru yang akan mereka dapatkan di Taman Lalu Lintas.

Bagi kita, mungkin Taman Lalu Lintas hanya area bermain anak di Tengah Kota Bandung. Tidak begitu istimewa bagi kita yang telah terbiasa. Tetapi, bagi anak-anak thalasemia kesempatan ini adalah suatu hal yang baru. Selain karena jarak yang jauh, kesempatan untuk berwisata ke tempat yang jauh juga terhalang oleh kemampuan fisik yang terbatas.
Thalasemia
Thalasemia adalah kelainan darah sel darah merah yang diturunkan secara genetik yang mengakibatkan seseorang harus melakukan transfusi darah seumur hidup. Kondisi ini menyebabkan secara fisik para penyandang thalasemia terbatas karena tubuh mengalami kekurangan sel darah marah dan gejala lain yang disebabkan oleh seringnya melakukan transfusi darah.
Karena kondisi tersebut, anak-anak thalasemia juga memiliki keterbatasan dalam mengenyam pendidikan di sekolah formal. Kondisi tubuh yang cukup rentan mengakibatkan mereka tidak dapat mengikuti beberapa pelajaran yang menuntut aktivitas fisik yang berat. Selain itu mereka juga seringkali mengalami perundungan karena kondisi tubuh mereka.
Senyum Cerah
Senyum anak-anak merekah tatkala memasuki pintu loket Taman Lalu Lintas Bandung. Di depan gerbang telah menyambut Bunda Suryamah dari Percikan Iman yang hari ini akan berkolaborasi bersama Homeschooling Semesta Edukasi dan Redti untuk mengajak anak-anak thalasemia bermain dan belajar.

Diawali dengan foto bersama, kegiatan dilanjutkan dengan melakukan eksplorasi berkeliling area taman lalu lintas. Anak-anak amat antusias melihat berbagai permainan, berlarian kesana kemari dan ingin mencoba apapun fasilitas yang ada disana. Seperti lupa pada kondisi kesehatan mereka, tak sedikitpun terlihat kelelahan dari raut wajah mereka yang ada hanya rasa gembira dan antusias terhadap hal-hal baru.
Kereta Api
Kereta api adalah magnet tersendiri bagi pengunjung Taman Lalu Lintas. Puluhan tahun, wahana ini tak sedikitpun kehilangan pesonanya di mata pengunjung. Begitu pula anak-anak thalasemia, dari awal datang mereka sudah sangat tidak sabar untuk naik kereta api. Tidak hanya anak-anak, orang tua pendamping pun turut antusias menaiki kereta api.

Lambaian tangan mereka menjadi sebuah isyarat bahwa kegiatan ini membawa kebahagiaan kecil bagi mereka yang berjuang untuk bertahan hidup dari waktu-ke waktu. Mungkin ada rasa sedih dan putus asa di hati mereka tapi hari ini rasa itu berganti kebahagiaan yang nyata.
Terbersit kenangan masa kecil di benak penulis, dahulu saat kecil kita pun merasa begitu luar biasa bisa menaiki kereta Taman Lalu Lintas. Itu juga yang dirasakan oleh anak-anak itu saat ini. Mereka sedang merajut kenangan masa kecil yang takkan pernah terlupakan.
Topi Samurai
Turun dari wahana kereta api, semua rasa penasaran itu sama sekali telah hilang dari wajah mereka. Rasa puas dan bangga terpancar dari senyuman para penumpang. Kami melanjutkan kegiatan dengan membaca buku bersama dan membuat origami topi samurai.

Dengan bahan koran bekas, Nurul Chusna salah satu relawan pengajar Homeschooling untuk anak thalasemia memberikan instruksi membuat topi samurai. Anak-anak tampak begitu serius mengikuti kegiatan dengan mengikuti perintah dengan seksama.
Setelah selesai melipat mereka juga menempelkan berbagai bentuk warba-warni yang dibuat dari kertas origami pada topi samurai tersebut. Mereka berkreasi sesuai dengan kreativitas masing-masing. Setelah selesai, tanpa ragu satu per satu mulai memakai topi itu di kepala. Begitu lucunya mereka sampai-sampai tak terlewatkan menjadi objek jepretan foto.
Pesan untuk Pak Dedi
Di akhir kegiatan, kami semua membuat konten lapor Pak Dedi bersama. Tidak ada niat lain selain ingin menyampaikan pada Pak Gubernur Jawa Barat bahwa di Jawa Barat ini banyak anak-anak penyintas thalasemia yang tengah berjuang untuk mencapai masa depan. Di tengah segala keterbatasan, anak-anak ini selalu berpikir positif dan berharap bisa mencapai cita-cita di masa depan.

“Pak Dedi, Pak Dedi, kami juga punya cita-cita, aku mau jadi hafdiz Quran, aku pemain sepak bola, aku tentara, aku guru, aku astronot”, sahut anak-anak penuh semangat. Menurut Pak Dedi dalam sebuah wawancara, pendidikan mengajarkan kesetaraan. Maka dari itu, pendidikan juga harus dapat diakses oleh seluruh anak dalam kondisi apapun termasuk oleh anak-anak thalasemia.

